Old Man

Menjadi tua adalah bagian dari perjalanan hidup, hanya kematian membuat kita tidak harus merasakan apa yang dinamakan tua. Mungkin juga mereka yang sudah bersusah payah dengan berbagai cara agar tidak dikatakan tua karena hal itu dirasa menakutkan, memiliki tubuh penuh keriput dan ingatan yang lemah.

umberto-d-05-gUmberto D. Ferrari sosok tua pensiunan pegawai pemerintahan di kota Roma yang hidup dengan mengandalkan uang pensiun. Ditemani anjing kecil yang alergi susu di sebuah flat sewaan yang tidak jauh dari tempatnya bekerja.

Tubuhnya kini tergolek lemah di atas kasur empuk dengan dengan pandangan mata yang tidak menampakkan keinginan untuk segera menjemput mimpinya. Di atas ranjang tua yang tidak terlalu besar itu tubuhnya nampak bergerak tidak beraturan, dimiringkan tubuh  itu ke kanan sejenak kemudian ke arah sebaliknya yang membuatnya semakin tidak nyaman meskipun hanya sekedar memejamkan mata. Setelah pensiun memang tidurnya tidak pernah nyenyak seperti dahulu saat masih bekerja, uang pensiun yang tidak cukup untuk membayar sewa tempat tinggalnya menjadi alasan membuatnya gelisah beberapa hari ini. Sebuah persoalan dengan waktu katanya, Umberto D bangkit dari ranjang berjalan mondar mandir di ruangan yang tidak terlalu besar sembari mencuri pandang ke anjingnya yang tertidur pulas seolah-olah jawabannya ada disitu. Pikirannya masih bergelut dengan pilihan bahwa esok hari dirinya tidur di flat dengan kasur yang empuk atau aspal jalanan yang keras. Menjadi tua hidup sendiri dalam kemiskinan sudah terlampau keras baginya.

Dalam Umberto D, film besutan Vitorio de Sica menjadi tua bukanlah kehidupan yang menarik dengan memiliki seekor anjing kecil bernama Flike dan berteman dengan pembantu si induk semang yang sedang kebingungan menentukan ayah dari bayi dalam kandungannya. Tidak memiliki anak maupun keluarga untuk membantu kesulitan yang dialaminya beberapa hari ini.

Tidak bisa dipungkiri setelah memasuki masa pensiun ritme hidup yang dimiliki Umberto D terlihat berantakan. Dulu tubuhnya seolah-olah bergerak secara otomatis untuk bangun pagi berangkat kerja hingga sore hari kemudian pulang ke tempat tinggalnya untuk beristirahat. Pengulangan yang dilakukan hingga puluhan tahun nyaris tanpa cela dan bukan tanpa alasan dirinya rela melakukan hal tersebut. Masa resesi di eropa telah memberikan andil sulitnya mencari lapangan pekerjaaan, ditambah lagi biaya hidup yang cukup tinggi menyebabkan kemiskinan adalah pemandangan yang mudah ditemukan segala penjuru kota. Di masa itu memiliki pekerjaan adalah hal yang paling berharga untuk diperjuangkan bahkan ada yang rela harus berkelahi dan terkadang berakhir kematian meskipun itu pekerjaan lepas harian.

Itulah yang membuat Umberto D. tidak ingin kehilangan apa yang dimilikinya saat itu, sebuah pekerjaan. Mencintai pekerjaannya seperti mencintai dirinya sendiri dengan melakukan hal yang tidak jauh berbeda setiap harinya. Membuatya harus melupakan hal yang tidak kalah penting tentang menjadi manusia seutuhnya dengan berkeluarga. Sebuah pilihan yang dijalani di kemudian hari dengan segala konsekuensinya, pilihan yang datang dari rasa takut tidak bisa bertahan hidup dari kejamnya masa resesi. Rasa takut untuk hidup di jalanan pinggiran kota Roma dengan menjadi pengemis dan meninggal dalam penampungan.

Dengan Kemiskinan yang pernah menghantui masa lalunya membuat Umberto D berhak merasakan kemewahan saat menerima hasil jerih payahnya, upah yang diperoleh setiap bulan membuat dirinya menyewa flat yang nyaman tidak jauh dari pusat kota. Pembantu pun telah disediakan induk semang untuk menyiapkan kebutuhan sehari-hari si penyewa. Ruangan yang tidak terlalu besar namun kelihatan mewah itu dijadikan surga kecilnya meskipun harus merogoh kocek dalam-dalam. Dan rutinitas yang berjalan selama puluhan tahun dimulai dari sini, menjalani pilihan hidup dengan apa yang diperolehnya hingga masa pensiun datang. Kebahagiaan dan rasa nyaman benar-benar diciptakannya hingga tidak ada hal lain yang terpikirkan meskipun harga sewa flat yang lumayan tinggi untuk gaji seorang pegawai pemerintah.

Bangun pagi berangkat kerja pulang sore kemudian beristirahat dan begitu juga keesokan harinya.

Sosok Umberto D sendiri bukanlah lelaki yang gemar dengan interaksi manusia, hidup dalam dunianya untuk dirinya sendiri. Dunianya adalah ruang yang memiliki satu ranjang kayu tua dengan kasur yang empuk dan seekor anjing kecil bernama Flike, bila saatnya tiba dunianya itu akan hilang sembari meratapi nasibnya dalam kesendirian sembari menunggu kematian datang menjemput.

Advertisements

Semeru Kini Tampak Lebih Megah Dari Sana (Obituari Riza Hernanda)

Ada beberapa orang yang mati meninggalkan sesuatu yang masih berasa setelah lewat beratus tahun; sebuah perjalanan untuk ingatan masa hidup seseorang ketika sudah tiada. Namun tidak sedikit diantara mereka yang menyisakan rasa getir ketimbang rasa lain untuk diingat dalam sebuah cerita, cerita yang akan terus dikumandangkan tahun demi tahun melawan waktu untuk bertahan namun pada akhirnya hilang tidak berbekas, mati mengikuti ajal sang pemilik cerita.

Pagi itu status seorang teman di path membuat waktu di sekeliling saya berhenti, jarum jam seakan berhenti enggan untuk melanjutkan tugasnya. Sebaris kalimat ditampilkan pada layar ponsel yang membuat nafas berhenti dalam hitungan detik hingga akhirnya berhembus seakan tidak mengenal henti. Innalilahi wa innalilahi rojiun, Riza Hernanda telah menghembuskan nafas terakhirnya, sejenak surat al fatihah mengalun dengan penuh khidmat.

Saya mungkin bukan seorang yang dekat atau sering bertemu dengan Riza, bisa dibilang saya hanya numpang lewat di kehidupannya dalam hitungan jam sejak pertama kali bertemu hingga tutup usia. Memang berakhirnya usia seseorang tidak akan pernah bisa ditawar bila sang pencipta sudah berkehendak, begitu juga dengan ihwal pertemuan untuk kehidupan (orang) baru dalam hidup kita. Pertemuan yang mungkin sudah dikehendaki meskipun singkat namun masih bisa diceritakan kembali setelah sekian lama. Mengenal sosok Riza tidak pernah terjadi bila Topan Lazuardi tidak mengajaknya ngobrol bersama kami ketika masa awal berdirinya folks coffee and tea. Sebuah tempat yang konon berasal dari mimpi pemiliknya setelah sekian lama. Obrolan pun mengalir seputar surga tersembunyi di Indonesia yang seolah tak ada habisnya, Topan dengan cerita serunya perjalanan melewati Pulau Moyo dan cerita saya tentang dibalik puncak tertinggi pulau Jawa. Yang tak disangka sosok Riza ikut mengungkapkan kekaguman yang sama akan gunung yang memiliki ketinggian 3676 mdpl, berteman pekatnya kopi dalam hingar bingar suasana folks malam itu seolah tidak cukup menghentikan kami bertiga untuk bercerita destinasi impian yang ada di Indonesia.

Setelah itu saya masih sering menghabiskan waktu di folks bersama teman-teman meski jarang bertemu dengan Topan, malahan lebih sering bertegur sapa dengan Riza dari balik meja bar ajaibnya. Ingatan tentang dirinya adalah menjadi teman ngobrol ketika saya sendirian menikmati secangkir kopi karena menunggu teman yang belum datang. Sebuah keramahan yang kini semakin mahal ditemukan pada sebuah kedai kopi meskipun kita pelanggan dari tempat tersebut. Kemegahan Gunung Semeru seakan tidak pernah habis menjadi magnet obrolan saya dengan Riza, ditambah lagi dirinya tidak segan berbagi pengetahuan seputar kopi dari hulu ke hilir yang patut diacungi jempol. Beberapa kali pertemuan yang singkat secara perlahan mulai menaruh respek terhadap dirinya bahkan angkat topi dengan wawasan yang dimilikinya, karena dengan usia yang masih begitu muda mampu menjadi teman ngobrol ataupun diskusi yang menyenangkan.

Seiring berjalannya waktu, terlalu sulit untuk menjawab pertanyaan kapan terakhir saya ke folks. Kesibukan demi kesibukan seolah silih berganti mewarnai hari yang harus dijalani serta lokasi tempat kerja baru yang letaknya jauh dari folks mengakibatkan frekuensi ngopi di tempat yang beralamat di jalan Selamet 8A semakin berkurang. Ini yang membuat saya pada akhirnya tidak pernah bertemu lagi dengan Topan maupun Riza dalam kurun waktu yang lama. Hingga beberapa waktu yang lalu sebuah kalimat pengingat akan kehidupan bahwa semua akan kembali kepadaNYA harus terucap. God Bless U !

Bahkan ketika menulis obituari ini saya ikut berandai andai, bahwa saat ini Riza mungkin akan melihat Mahameru (Puncak Semeru) yang nampak lebih megah dari yang pernah diceritakannya saat itu. Dan itu adalah Semeru mu teman.

Membaca tulisan ini mungkin sebagian orang akan bertanya-tanya mengapa pertemuan yang relatif singkat namun memberikan kesan yang mendalam hingga rela menuangkannya dalam sebuah obituari. Yah itulah sosok Riza Hernanda yang akan saya kenang. Dia tidak membutuhkan waktu lama untuk membuat orang lain respek terhadap dirinya dan tulus melihat orang lain sebagai teman untuk sekedar ngobrol, diskusi dan ngopi hingga tetes terakhir.

Seperti yang pernah dikatakan Sir Peter Ustinov bahwa tidak ada gunanya mati, jika anda tidak menghantui ingatan seseorang… jika anda tidak meninggalkan secercah rasa. Riza telah meninggalkan secercah rasa dalam kenangan perjalanan hidup yang saya jalani.

Sampai jumpa lagi Teman… sampai ketemu pada akhirnya nanti

NB: Berasa sentimentil banget pas nulisnya sambil dengerin Sycamore punya Caspian

Indonesia Raya (R.I.P.)

Indonesia Raya merupakan kepingan sejarah yang pernah menghiasi perjalanan surat kabar di Indonesia yang terbit dalam dua periode, 1949-1958 dan 1968-1974. Terbit atas permintaan tentara Republik untuk menyuarakan pandangan kaum republiken. Untuk mempersempit ruang gerak dan pendukung Belanda yang masih kuat di ibu kota. Dukungan penuh dari tentara Republik yang tidak hanya berupa moral dan perlindungan pers akan tetapi juga bantuan keuangan untuk membeli kertas, membiayai percetakan, atau gaji pegawai jika diperlukan. Ada fakta cukup menarik dibalik dukungan yang terjadi pada masa itu yakni tentara berlangganan semua surat kabar nasional untuk dibagikan kepada prajurit, salah satunya Indonesia Raya hingga tahun 1952.

Kelahiran surat kabar ini dimulai dengan edisi 29 Desember 1949, dua hari setelah penandatanganan pengakuan Belanda terhadap kedaulatan dan kemerdekaan Republik Indonesia. Nama Indonesia Raya sendiri diperoleh Mochtar Lubis atas saran Teuku Sjahril dari judul lagu kebangsaan, tetangga sekaligus pembantu tetap majalah umum dan sastra Mutiara, majalah yang ikut berperan serta membidani terbitnya Indonesia Raya. Mochtar Lubis merupakan salah seorang dari pendiri Indonesia Raya pada tahun 1949 dan menjadi pemimpin redaksi surat kabar ini sejak awal.

Indonesia Raya berkembang sebagai surat kabar yang kontroversial karena cara penyajian beritanya yang sering tanpa tedeng aling-aling dan karena kritik-kritiknya yang tajam, terbuka dan langsung tepat sasaran. Dengan menggunakan bahasa populer yang sederhana tanpa berusaha menggunakan eufinisme. Namun jurnalistik semacam itu tak pelak memberikan konsekuensi tekanan demi tekanan yang menyebabkan terjadinya lima kali pembredelan singkat selama masa orde lama, dan akhirnya pembredelan keenam yang menghentikan penerbitan harian ini pada edisi 10 September 1958.

IR

Beberapa kasus pemberitaan menyebabkan serangkaian pembredelan singkat tersebut yang terkadang berujung penahanan para redaktur hingga wartawan. Namun ada yang perlu digarisbawahi menjelang surat kabar ini dihentikan, yakni kasus Menteri Luar Negeri Roeslan Abdulgani penuh intervensi dari Pemerintahan yang berdaulat. Juga pemuatan surat-surat pembelaan diri Letnan Kolonel Zulkifli Lubis dari tempat persembunyiannya serta berita seputar pengambilalihan pemerintahan sipil Sumatera Tengah oleh Dewan Banteng. Disinyalir karena ketiga alasan tersebut Indonesia Raya bergejolak dan terjadi perpecahan 2 kelompok besar yakni kelompok Mochtar Lubis dan Hasjim Mahdan. Penyebabnya antara lain rayuan Menteri Penerangan Sudibjo kepada Hasjim Mahdan untuk mengajak Mochtar Lubis agar Indonesia Raya tidak beroposisi terhadap pemerintah dan dengan keras Mochtar Lubis menolak hal tersebut. Penolakan tersebut menimbulkan gagasan surat kabar baru dengan nama Suara Indonesia Raya, melanjutkan perjuangan kelompok yang tidak setuju dengan pemikiran Hasjim Mahdan yang tetap menggunakan nama Indonesia Raya.

Catatan Harian

6 September 1958
Akhirnya apa yang saya (Mochtar Lubis) khawatirkan; terjadinya perpecahan di Indonesia Raya, yaitu perpecahan antara kawan-kawan yang tidak tahan terhadap tekanan dan ingin mencari perlindungan, dan bersedia mengubah dasar-dasar perjuangan Indonesia Raya ini dengan redaksi yang secara bulat berdiri di belakang saya. Pada tanggal 6 September 1958, hari ini, redaksi telah mengeluarkan seruan kepada para pembaca Indonesia Raya untuk menyokong redaksi untuk penerbitan harian yang dinamakan Suara Indonesia Raya, yang akan meneruskan perjuangan asli Indonesia Raya. Mereka yang mau berkompromi mencoba menerbitkan Indonesia Raya gaya baru ? Para pembaca diajak supaya mengirimkan uang langganan kepada redaksi sebesar Rp 28,- sebagai modal dan akan dibukukan sebagai sero pembaca untuk mendapat keuntungan. Kita akan melihat apakah sambutan para pembaca akan cukup besar untuk penerbitan Indonesia Raya yang baru ini.

Permintaan terbit Suara Indonesia Raya yang diajukan ditolak oleh pemerintah sedang surat kabar Indonesia Raya versi Hasjim Mahdan hanya bertahan selama kurang dari tiga bulan pasca Mochtar Lubis menolak gagasan untuk kompromi dengan pemerintah Orde lama. Perpecahan ini menjadi penutup drama Indonesia Raya periode pertama yang memiliki oplah 47.000 eksemplar pada saat-saat terakhirnya.

Indonesia Raya lahir kembali pada masa orde baru, 30 oktober 1968, setelah berhenti terbit lebih dari sepuluh tahun. Waktu yang panjang untuk sebuah perubahan dan akhir perseteruan, dengan berbagai dukungan Mochtar Lubis menghidupkan kembali harian ini dan menjadi pemimpin redaksi juga pemimpin umum.

Sudah sejak tahun-tahun pertama kelahirannya tampil, Indonesia Raya sebagai surat kabar yang terutama berpolitik dan sejarahnya tidak dapat dipisahkan dari perkembangan politik Indonesia. Meskipun tetap tidak selalu bersikap lembut terhadap pemerintah, selama pemerintahan Soeharto surat kabar ini tidak lagi sekeras dan sesengit seperti pandangannya terhadap pemerintahan Soekarno.

Namun hari yang tidak ditunggu itu akhirnya tiba, 21 januari 1974 sebuah edisi “penutupan” Indonesia Raya. Bersama sebelas surat kabar harian dan mingguan serta satu majalah berita yang dilarang terbit pada bulan Januari 1974. Tindakan pembredelan yang merupakan tindakan tindak lanjut pemerintah setelah terjadi demonstrasi besar-besaran oleh mahasiswa yang menentang kunjungan Perdana Menteri Jepang Kakuei -Tanaka dan mengkritik politik pemerintah Indonesia. Demonstrasi itu dinamakan peristiwa “Malapetaka Lima Belas Januari” (Malari) yang terjadi pada 15 – 16 Januari.

Tajuk Indonesia Raya

16 Januari 1974
Pengalaman Dengan Jepang Selalu Pahit
Setelah kami melakukan kewajiban tata krama Indonesia menyambut tamu dengan baik, maka tiba pula waktunya untuk berbicara berpahit-pahit dengan tamu kita dari utara ini, Perdana Menteri Tanaka.
Kami ingin menegaskan kepada Tanaka bahwa dalam sejarah hubungan Jepang dengan Indonesia, maka Indonesia hanya mengalami kepahitan-kepahitan yang luar biasa saja.
Pengalaman rakyat Indonesia di bawah telapak kaki besi tentara Dai Nippon tak kalah buruknya dan sakitnya seperti pengalaman rakyat-rakyat di Eropa di bawah telapak kaki kaum Nazi Jerman.
Jika hendak kita uraikan kejahatan-kejahatan, perkosaan-perkosaan, pembunuhan-pembunuhan, pemerasan dan berbagai kejahatan lain yang telah amat ganasnya dilakukan tentara Jepang di Indonesia selama Perang Dunia Kedua, maka ia akan menjadi satu buku yang amat tebalnya. Betapapun besarnya perampasan perang Jepang tak ada yang dapat menggantikan kehancuran dan kebinasaan yang telah ditimbulkan Jepang pada bangsa Indonesia selama pendudukan Jepang di Indonesia.
Setelah Perang Dunia berakhir, Jepang pun dengan segala kecongkakkan kekuatan ekonominya terus mencoba memeras kekayaan Indonesia, dibantu oleh berbagai orang yang hanya memikirkan kepentingan diri mereka dan membuka pintu bagi mengalirnya kekuatan ekonomi Jepang dengan deras ke tanah air kita.
Riwayat pembayaran perampasan perang Jepang penuh dinodai dengan korupsi, proyek-proyek yang tidak ekonomis, dan sebenarnya perlu diteliti berapa persen dari perampasan perang Jepang itu yang tinggal terkait di Tokyo dan memperkaya orang Jepang sendiri. Di berbagai bagian nusantara kita melihat saksi-saksi terhadap kegagalan-kegagalan proyek perampasan. Dapat saja menyalahkan Soekarno mengenai hal ini, tetapi kita melihat betapa orang Jepang tak kurang bersemangat bekerja sama dengan Soekarno melakukan penipuan besar demikian terhadap rakyat Indonesia.
Setelah Sari Dewi menjadi penyalur hubungan ekonomi antara Jepang dan Indonesia dulu, maka kita melihat pola lama itu diteruskan dengan pemain-pemain baru tetapi praktiknya serupa.
Kritik terhadap praktik-praktik Jepang di Indonesia dan Asia Tenggara sudah cukup banyak disiarkan.
Untuk menguji kemurnian sikap Jepang terhadap Indonesia, kita ingin melihat sikap Tanaka terhadap beberapa gagasan Indonesia yang kami harap dikemukakan kepada Tanaka
Gagasan pertama adalah pengakuan Jepang terhadap wawasan Nusantara. Bersediakah Jepang mengakui kedaulatan Indonesia atas laut antara kepuluan Nusantara kita? Gagasan kedua adalah kedaulatan Indonesia, Malaysia dan Singapura atas Selat Malaka. Bersediakah Jepang mengakui itu ?
Jika Jepang tidak bersedia mengakui kedua gagasan ini, maka segala maksud baik Jepang terhadap kita tak ada artinya sama sekali

Indonesia Raya tidak terbit lagi mulai edisi 22 Januari 1974 setelah sehari sebelumnya terjadi pencabutan surat izin cetak (SIC). Pada 23 Januari Departemen Penerangan mengumumkan bahwa terbitan SIC-nya dibatalkan, juga terkena pencabutan. Sedikitnya 14 wartawan terbitan yang dibredel itu dikabarkan masuk dalam daftar hitam pemerintah yang tidak pernah diumumkan. Selama masa yang tidak jelas batasnya, mereka tidak dibolehkan mengelola media pers lagi, salah satunya adalah Mochtar Lubis. Pencabutan SIC seakan menjadi akhir drama 2 babak (periode) dari surat kabar dengan motto “Suara Pembaharuan Dari Rakyat Oleh Rakyat Untuk Rakyat”. 

Prolog: Sunrise (here i am)

Tidak ada kalimat yang sempurna, sama seperti tidak ada keputusasaan yang sempurna

Sebuah kutipan buku yang kubaca secara kebetulan ketika masih mahasiswa dan jauh di kemudian hari aku baru memahami makna kalimat tersebut. Setidaknya, kuanggap kalimat itu sebagai kata-kata penghibur.

Aku selalu dilanda oleh rasa putus asa ketika melakukan perjalanan ujung timur pulau jawa dengan mempersiapkan berbagai alasan untuk menolak pergi. Aku terus berkutat dengan dilema seperti itu selama dua puluh tahun. Dua puluh tahun, sungguh waktu yang lama untuk penantian. Sebuah jawaban berada dalam tas selempang berwarna coklat, tas peninggalan bapak ketika menjadi abdi desa. Sosok lelaki using yang bangga mengabdikan diri pada desa tempat dilahirkan. Melestarikan adat turun temurun yang pada akhirnya harus rela merenggang nyawa akibat pengabdian. Tubuhnya ditemukan di pintu air dengan dua belas tusukan, sebuah kematian yang tidak menjadi permasalahan penting tak ubahnya semasa hidup bapak dari anak usia delapan tahun.

Aku, 28 tahun, saat ini sedang duduk di dalam kereta api malam Mutiara Timur malam. Deretan gerbong hendak berhenti menyusup diantara gelap, menambah gelap cerita stasiun yang menjadi saksi perjuangan masyarakat setempat melawan penjajah.

Rintik hujan tidak beraturan di bulan Januari awal tahun 2014, petugas berjas hujan  mengambil posisi mengarahkan penumpang menuju pintu keluar, deretan papan iklan pariwisata dengan warna menyolok seakan memperlihatkan buatan siswa yang baru belajar tentang disain.

Kereta pun berhenti, dari pengeras suara di langit-langit terdengar ucapan “Selamat Datang di Stasiun Karang Asem”. Para penumpang mulai menurunkan tas hingga bawaannya dari kabin, aku dari balik jendela kereta menengok ke atas memandang langit gelap yang diringi rintikan hujan, kemudian merenungkan segala sesuatu yang telah hilang dalam perjalanan hidupku hingga kini. Waktu yang hilang, orang-orang yang telah tiada atau pergi, perasaan yang tak pernah kembali sejak meninggalkan kota ini.

Dua puluh tahun telah berlalu, aku masih bisa mengingat dengan jelas pemandangan di pintu air.  Matahari mulai menampakkan sinar terang, langit gelap menuju terang menghiasi cakrawala. Petak sawah terbentang tak berujung, angin menggoyang pucuk pucuk ilalang kesana kemari. Pintu air berkarat yang kokoh, tubuh manusia berselimut daun pisang. Darah membasahi tanah rerumputan, tangisan wanita merusak harmoni kicauan burung – burung sawah.

Ingatan itu merupakan sesuatu yang aneh.

Ketika aku benar-benar ada di sana, aku hampir tidak memperhatikan pemandangan itu. Aku tidak merasa pemandangan itu menyedihkan, juga tidak terpikir bahwa mungkin setelah lewat dua puluh tahun pun aku dapat mengingatnya sampai hal yang sekecil- kecilnya. Jujur saja, bagiku pemandangan saat itu bukanlah sesuatu yang dipikirkan.

Langkah kaki silih berganti bersahutan bunyi rintik hujan jatuh ke tanah. Aku menuju ujung bangunan mencari jalan keluar dari penjara ingatan yang aneh, mengejar kenyataan dengan berlari tergesa untuk terbitnya matahari.

Sosok lelaki menyebut namaku berkali kali di pintu keluar stasiun kepada setiap orang yang dilalui. Lelaki itu bernama Parjo, sopir suruhan dari para pejabat kabupaten .

Mobil Trooper mulai melaju, aku duduk di belakang sopir dan menyandarkan kepala pada kaca jendela mobil dengan memandang jatuhnya buliran hujan ke jalan. “Ke Pantai Boom” menjawab pertanyaan Parjo, tujuan pertama di Bumi Blambangan menjadi awal dari beribu tujuan yang ditempuh dalam penebusan masa lalu bapak.

Hari esok merupakan awal kehidupan yang tertunda, menebus hilangnya dua puluh tahun pada beberapa lembar kertas pengesahan kepala desa dalam tas selempang coklat tua. Aku tidak pernah berdoa untuk kembali dalam bayangan kematian bapak, Aku tidak berharap menatap masa depan di tempat kelahirannya, seakan tidak percaya esok diangkat menjadi pimpinan abdi desa. Kenyataan pahit yang harus dirasakan namun perlahan terasa manis pada akhirnya.

aku

Kini aku sudah berdiri di hamparan pasir hitam, batas suara ombak menyentuh bibir pantai, langit temaram menuju terang menyambut pagi. Perahu nelayan membelah lautan mengusik lamunan, menerjang ombak mencari asa demi hari esok. Memulai hari dengan memandang keagungan-Nya dari ujung timur Pulau Jawa.

Aku akan menjadi kepala desa, menjadi pimpinan abdi desa yang diagungkan oleh bapak semasa hidup. Di tempat bapak dilahirkan juga dikuburkan dengan dua belas tusukan. Sejenak memandang matahari terbit yang tertutup awan, dengan suara lirih berucap “Aku sudah disini pak !”.

Breakfast with Capote

More tears are shed over answered prayers than unanswered ones – Capote

Sebuah bangunan bertingkat yang pernah ditempati penulis legendaris amerika D.H. Lawrence. Villa berwarna putih bersih terdiri dari beberapa ruangan yang dijejali perabot bergaya meditarenia, diantaranya sebuah sofa dan kursi gemuk berlapis beledu merah. Lembaran naskah berserakan di meja terlihat tulisan Answered Prayers cukup mencolok pada salah satu lembarannya. Sebuah meja kayu dengan ukiran di setiap kaki meja dibuat serasi dengan sofa yang sebenarnya lebih cocok dikatakan singgasana. Bangunan ini memiliki ruangan besar dengan dinding terpasang gambar – gambar reruntuhan romawi namun berbintik-bintik coklat lantaran pengaruh usia, di salah satu sudut ruangan jam dinding berbentuk lonceng gereja menunjukkan pukul 7.33 pagi.

Seorang lelaki berpiyama dengan warna ungu keluar dari kamar tidur, berjalan dengan langkah malas hingga lututnya tidak terasa terantuk meja. Dengan gontai kakinya terus melangkah dengan pandangan mata mencari sebungkus rokok. Tidak lama kemudian setelah menemukan apa yang dicarinya, ibarat sebuah mesin otomatis  tubuhnya menuju tempat favoritnya sepanjang hari. Di sofa ini dia bisa menghabiskan waktu pagi hingga sore, dengan beberapa bungkus rokok dan sebotol J & B Scotch Whisky. Dengan menikmati rokok pertama di tahun baru dirinya mengambil posisi duduk bermalas malasan seolah tumpuan yang dimiliki tidak bisa menopang berat badannya. Sesekali jari jari mungilnya memijat kepalanya yang masih terasa pening, isi kepala yang bersiap untuk meledak akibat mabuk semalam. Sebuah konsekuensi dari sebuah pesta tahun baru yang tidak ingin dilupakan. Malam itu dirinya menghabiskan pergantian tahun bersama Jack Dunphy. Lelaki yang dibutuhkan Truman Capote saat ini dan esok untuk bercerita tentang apapun dalam hidupnya.

Kepulan asap rokoknya tidak mampu menyembunyikan raut wajah bahagia, senyuman yang menjawab kerinduannya pada Jack Dunphy. Penulis amerika yang usianya lebih tua 10 tahun, kebersamaaan Dunphy dalam beberapa hari membuat dirinya telah membayar lunas pengorbanan sejak lama. Sebuah pengorbanan akibat novel in cold blood yang telah membuatnya menguras energi maupun emosi dalam waktu lama. Baik ketika novel ini dibuat hingga harus menjalani kesuksesan In Cold Blood, satu hal ini telah diyakininya jauh saat In Cold Blood belum diterbitkan. Sebuah karya yang akan merubah hidupnya dan membuat tidak bisa bertemu dengan Jack Dunphy untuk sementara waktu.

Suara dering telepon mengusik Lamunannya, dengan gayanya yang malas Capote berusaha meraih gagang telepon di meja di dekatnya. Sepintas tubuh yang besar itu seolah tidak bergerak sedikitpun, entah karena malas atau kepalanya yang masih pening yang membuat malas bergerak. Padahal dirinya berharap tidak ada yang menelpon selama menikmati masa liburan. Capote memaklumi dering telepon yang didengar pagi itu karena hanya beberapa kolega terdekat yang mengetahui nomer teleponnya saat tinggal di Costa Brava Spanyol.

Gagang telepon ditempelkan pada telinganya dan terdengar suara yang dikenalnya sejak kecil, seorang wanita yang membantu dirinya dalam penulisan In Cold Blood. Suara tomboy Harper Lee yang seolah belumlah cukup menambah kebahagiaan pagi itu, bersamaan itu juga dirinya melupakan sakit kepala yang dirasakan sebelumnya. Dengan nada manja Capote balas menyapa wanita yang menjadi inspirasi di dua novelnya terdahulu.  Idabel Tompkins di Other Voices, Other rooms dan Ann Finchburg di The Thanksgiving Visitor adalah bagaimana menggambarkan Harper Lee versi Truman Capote. Perbincangan akrab diselingi canda tawa mengobati kerinduan mereka, kesibukan Harper Lee yang menjalani tour buku pertama dan terakhir To Kill A Mockingbird salah satu penyebabnya. Namun hal ini bisa dimaklumi karena Lee patut mendapatkan buah hasil kerja kerasnya, sebuah kerja keras yang sebenarnya tidak bisa menepikan peran Capote sendiri. Capote yang mengirimkan dan memberikan rekomendasi naskah To Kill A Mockingbird kepada Lippincott untuk diterbitkan, sebuah novel yang kesuksesannya melebihi dari In Cold Blood.

Perbincangan yang diselingi dengan asap rokok selama beberapa menit berakhir dengan rencana kedatangan Lee ke Costa Brava minggu depan, kabaritu disambutnya dengan gegap gembira bersamaan menutup gagang telepon. Namun perasaan itu tidak bertahan lama, tiba tiba Capote merasakan hal aneh pada tubuhnya seolah suara batinnya mengatakan “sebatang rokok tidak akan membuatmu kenyang”. Ini adalah satu hal yang selalu terjadi di pagi hari saat kesadaran seseorang mulai membaik usai mabuk yang berlebihan pada malam sebelumnya. Dirinya melangkah sigap menuju dapur  memasak air untuk menyeduh kopi serta menghangatkan beberapa croissant. Kopi dan Croissant sebuah icon pada opening scene film yang dibuat dari novelnya Breakfast at Tiffany’s. Seorang wanita muda bernama Miss Holly yang menikmati croissant dan segelas kopi sembari melihat dari luar etalase Tiffany’s yang masih tutup pagi itu. Untuk film ini Capote memiliki kekecewaan karena Marilyn Monroe sahabatnya yang lebih cocok untuk membawakan peran Miss Holly dibandingkan Audrey Hepburn.

Histeria yang terjadi sebelumnya ternyata membangunkan Dunphy dari tidurnya. Dengan hanya bercelana pendek dirinya keluar dari kamar tidur kemudian turut serta menikmati croissant dan kopi. Capote tidak bisa menyembunyikan rasa terkejut ketika melihat lelaki bertubuh ramping ada di depannya dan spontan ucapan permintaan maaf itu keluar tanpa permisi dari mulutnya. Menurutnya perbincangan dengan lee di telepon memiliki andil telah membuat Dunphy terbangun dari tidur. Dan seperti yang terjadi sebelumnya permintaan maaf itu dibalas dengan senyuman yang manis. Sebuah senyuman yang berlanjut dengan pertanyaan “siapa yang menelpon ?” jawaban Capote pun disambut dengan gembira oleh lelaki yang akan menemani hidupnya hingga akhir hayat. Sebuah sarapan yang akan menjadi saksi bagi kehidupan Truman Capote dan Jack Dunphy di sebuah tempat yang indah bernama Costa Brava.

Hadji Murat

Hadji Murat adalah sebuah bentuk perlawanan seorang penulis tua (Tolstoy) terhadap kekuatan besar diluar kekuasaannya

Beberapa waktu yang lalu hunting buku bekas secara online dan mememukan buku berjudul Hadji Murat yang ditulis oleh Leo Tolstoy. Ini merupakan karya terakhirnya sebelum Sastrawan rusia yang meninggal di sebuah stasiun kereta api terpencil di tahun 1910 karena radang paru paru. Penulisan novel ini sendiri menghabiskan waktu selama 8 tahun dimulai tahun 1896 hingga 1904 dan sebelum diterbitkan banyak mengalami sensor oleh pihak pemerintahan Rusia pada saat itu hingga pada akhirnya cerita yang dibaca saat ini tidak menjadi utuh tulisan Tolstoy.

Cerita dibuka dengan Pertemuan Hadji Murat dengan kerabatnya yang menyatakan keinginannya untuk menyerahkan diri kepada tentara Rusia, dan berita tersebut disambut gembira para jendral rusia. Sebab Hadji Murat adalah musuh yang paling ditakuti pada masa peperangan tersebut. Di novel ini Tolstoy pandai menciptakan konflik pada tokoh yang ada di dalam bukunya, diceritakan Hadji Murat yang berdarah Khan justru dikhianati oleh rekan seperjuangannya dan Rusia memanfaatkan situasi ini dengan memberikan jabatan serta menjadi penguasa di wilayah Avaria. Sebuah surban pun bisa dijadikan sebuah konflik oleh Tolstoy, seperti yang diceritakan di novelnya ketika Rusia beranggapan surban dikenakan oleh Hadji Murat dalam kesehariannya adalah semacam simbol pemberontak dan menganggapnya telah membelot ke teman seperjuangannya dahulu, dijelaskan kemudian bahwa pemakaian Surban itu adalah kehendak dari agama yang dianutnya namun pada akhirnya Rusia pun tidak sepenuhnya percaya. Banyak konflik batin dari seorang pejuang yang dikaguminya yang disodorkan oleh Leo Tolstoy, Sebagian besar di novel bercerita tentang sebuah pilihan, hingga pada akhirnya Hadji Murat harus memilih menyelamatkan keluarganya atau kemerdekaan tanah kelahirannya namun dengan menerima sebuah kenyataan dia telah dikhianati oleh bangsanya sendiri.

Hadji Murat ini adalah bukanlah tokoh fiksi hasil imajinasi Leo Tolstoy. Dia adalah sebuah sejarah yang menjadikan dirinya musuh Rusia yang paling ditakuti dalam perebutan dominasi atas daerah pegunungan yang terletak di batas selatan Kerajaan Romanov. Tolstoy sendiri belum pernah bertemu dengan Hadji Murat hingga suatu waktu setangkai bunga liar diantara semak Tartar memberikan inspirasi untuk menulis. Baginya seorang Hadji Murat memiliki kekuatan hidup yang hebat, yakni betapa kerasnya bertahan dan menghargai hidup yang melambangkan keteguhan dan keagungan hidup layaknya setangkai bunga liar diantara semak Tartar.

Kopi Klobot, Cinta pada seduhan pertama

kopi, kopi dan kopi…

Dulu Menemukan tempat ini secara tidak sengaja, karena sering melewati tempat ini bila ke SUTOS (Surabaya Town Square) dan banyaknya mobil yang parkir di tempat ngopi tersebut menimbulkan kesan tempat ini tidak pernah sepi pengunjung, namun setelah mampir akhirnya tahu ternyata tempat ini bertetangga dengan kost eksekutif dan mobil tersebut milik anak-anak kost jadi semacam strategi marketing secara tidak langsung hehehe.

Satu waktu kami mampir ke tempat ini dan langsung memesan menu andalan yang ditawarkan oleh waitresnya yakni Kopi Klobot. Masih ingat saat itu ada promo diskon 50% untuk secangkir kopi klobot yang dibandrol 5ribu rupiah. Setelah memesan sejenak sempat terpikir bentuk kopi klobot ini, apakah kopi yang dicampur dengan tembakau (klobot) atau memang varian baru jenis kopi. Namun setelah disajikan justru pemikiran tadi salah besar, ternyata kopi kobot adalah semacam kopi hitam yang disajikan dengan rokok klobot. Karena bukan perokok maka cukup menikmati kopinya saja dan dari seduhan pertama itulah membuat jatuh cinta dengan kopi ini sampai sekarang.

Tempat ini adalah SAMA SAMA Snack n Coffe yang berada di Jalan Kutai no 38 Surabaya, memanfaatkan sebuah lahan parkir dari sebuah salon namun didisain sedemikian rupa sehingga kenyamanan anda untuk menikmati seduhan kopinya tetap terjaga. Di tempat ini sering digunakan untuk bertemu dari teman teman komunitas untuk sekedar ngobrol membicarakan sebuah kegiatan ataupun sekedar ngopi bareng, mungkin karena lokasinya yang strategis ditengah kota dan harga yang terjangkau memberikan nilai tambah. Saat berada disini tidak perlu gelisah apabila ingin berinternet ria, karena Wifi sudah tersedia plus colokan dengan kabel yang panjang. Tempatnya buka mulai sore sampai lewat tengah malam setiap harinya dan saat ini juga ada member cardnya jadi buat yang doyan ke tempat ini mungkin bisa memanfaatkan fasilitas dari SAMA SAMA Snack n Coffe untuk mendapatkan spesial diskon.

Saat ini menu kopi klobot diperbanyak jenisnya jadi anda bisa menemukan kopi klobot jahe, kopi klobot susu, banyak jenis minuman baru yang patut dicoba di tempat ini juga snacknya terutama kentang goreng namun pilihan tetap di Kopi Klobot (Original). Terkadang disini bisa menghabiskan waktu sampai 3 – 4 jam di tempat ini sekedar untuk absen ataupun menghabiskan waktu bersama teman teman, namun rutinitas itu saat ini sudah jarang dilakukan karena kesibukan yang semakin tidak bisa dikompromikan. Jadi bila ada waktu sempatkan buat anda untuk mampir ke tempat ini dan bagi penyuka kopi hitam pekat tidak ada salahnya untuk mencoba menu kopi ini sembari menikmati tembakau yang dibungkus dengan lapisan kulit jagung (rokok klobot)